img
5
Hakikat Kemerdekaan: Dari Penghambaan kepada Manusia Menuju Penghambaan kepada Allah

*Hakikat Kemerdekaan: Dari Penghambaan kepada Manusia Menuju Penghambaan kepada Allah*


Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati kemerdekaan Indonesia. Kita mengibarkan Sang Merah Putih, menyanyikan Indonesia Raya, dan mengenang jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa.


Namun, di balik perayaan itu, ada satu pertanyaan yang lebih dalam: *apa sebenarnya hakikat kemerdekaan?*


Apakah kemerdekaan hanya berarti terbebas dari penjajahan? Apakah ketika sebuah bangsa telah memiliki negara yang berdaulat, maka seluruh rakyatnya otomatis telah merdeka?


Dalam perspektif Islam, makna kemerdekaan jauh lebih dalam daripada sekadar kebebasan politik.

Rib'i bin 'Amir radhiyallahu 'anhu pernah menyampaikan sebuah kalimat yang sangat kuat ketika berhadapan dengan Rustam, panglima Persia:


*“Kami diutus untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah.”*


Kalimat ini menggambarkan salah satu hakikat kemerdekaan dalam Islam.


Sebab manusia bisa saja hidup di negeri yang merdeka, tetapi hatinya masih terjajah. 


Terjajah oleh harta, jabatan, popularitas, hawa nafsu, ambisi, atau penilaian manusia.

Maka kemerdekaan sejati bukanlah ketika manusia bebas melakukan apa saja yang ia inginkan.


 Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia terbebas dari penghambaan kepada selain Allah. Ketika seseorang hanya tunduk kepada Allah, ia tidak mudah diperbudak oleh dunia.


Kemerdekaan Indonesia sendiri juga tidak lahir secara tiba-tiba.

Di balik Proklamasi 17 Agustus 1945 terdapat perjuangan panjang para pahlawan, rakyat, ulama, dan santri.

Para ulama tidak hanya berjuang melalui mimbar dan pesantren. Mereka juga ikut mengambil bagian dalam perjuangan kebangsaan.


Tokoh-tokoh ulama seperti KH Abdul Wahid Hasyim turut terlibat dalam proses persiapan kemerdekaan melalui BPUPKI.


Hal ini menunjukkan bahwa ulama memiliki peran penting bukan hanya dalam membimbing manusia menuju Allah, tetapi juga dalam memikirkan masa depan masyarakat dan bangsa.


Para santri pun memiliki sejarah panjang dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ketika bangsa ini menghadapi ancaman kembalinya penjajahan, para ulama menggelorakan semangat perjuangan.



Salah satunya melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Para ulama dan santri terdahulu memahami bahwa kemerdekaan bukan sekadar hadiah yang harus dinikmati, tetapi amanah yang harus dijaga dan dipertahankan.


Hari ini, kita memang tidak lagi menghadapi penjajah dengan senjata seperti generasi terdahulu.

Tetapi bukan berarti perjuangan telah selesai.

Medan perjuangan kita telah berubah.


Jika dahulu para santri berjuang melawan penjajahan, hari ini kita harus berjuang melawan kebodohan.


Jika dahulu mereka mempertahankan kemerdekaan dengan keberanian, hari ini kita harus mengisinya dengan ilmu dan karya.

Jika dahulu mereka mengangkat senjata, hari ini kita harus mengangkat pena, mengembangkan teknologi, membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, mendidik masyarakat, dan menghadirkan solusi bagi bangsa.


Kita harus melawan kemiskinan dengan kemandirian.

Melawan kebodohan dengan pendidikan.

Melawan kerusakan moral dengan akhlak.

Melawan perpecahan dengan persatuan.

Dan menghadapi tantangan zaman dengan iman, ilmu, dan kemampuan.


Karena itu, menjadi santri hari ini bukan hanya tentang bangga terhadap sejarah para ulama dan santri terdahulu.

Menjadi santri berarti bersedia meneruskan perjuangan mereka dalam bentuk yang sesuai dengan zaman.


Para ulama dan santri terdahulu telah berjuang agar kita menjadi bangsa yang merdeka.


Maka tugas kita adalah memastikan bahwa kemerdekaan tersebut tidak menjadi sia-sia.

Kita harus menjadi generasi yang mampu mengisi kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, kepemimpinan, kemandirian, dan karya.


Sebab pada akhirnya, bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang merdeka.

Dan manusia yang benar-benar merdeka bukanlah manusia yang hidup tanpa aturan.

Ia adalah manusia yang hanya tunduk kepada Allah, tetapi mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi sesama.


Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.


Garut, 17 Agustus 1945

img